TOKYO, Feb 11 (News On Japan) - Pembicaraan merger antara Honda dan Nissan yang terhenti, serta upaya akuisisi US Steel oleh Nippon Steel, menjadi sorotan. Negosiasi integrasi manajemen antara Honda dan Nissan dibatalkan hanya dalam waktu sekitar satu bulan setelah diumumkan. Kegagalan yang cepat ini sebagian besar disebabkan oleh perbedaan ukuran antara kedua produsen mobil tersebut.
Keengganan Nissan untuk menghadapi tantangan saat ini dapat menyebabkan kembalinya masalah yang awalnya memicu diskusi merger ini.
Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump ikut berkomentar mengenai rencana akuisisi US Steel oleh Nippon Steel, dengan menyatakan bahwa hal tersebut harus dianggap sebagai "investasi" dan bukan "pengambilalihan," serta bahwa perusahaan Jepang itu tidak boleh memegang mayoritas saham. Dengan perkembangan baru ini, di mana posisi Nippon Steel saat ini, dan apa ambisinya? Editor desk ekonomi Kyodo News, Satoshi Matsuo, memberikan wawasan mengenai posisi dan prospek perusahaan ini.
Memahami dasar-dasar kesepakatan ini dapat membantu dalam memahami perkembangan yang sedang berlangsung terkait Nippon Steel dan US Steel.
Rencana akuisisi US Steel oleh Nippon Steel telah memicu penolakan politik dan skeptisisme investor, meskipun secara finansial merupakan kesepakatan yang menarik.
Tawaran akuisisi Nippon Steel mencakup premi 40% dari valuasi pasar US Steel per Desember 2023, sebuah proposal yang sangat menarik bagi para pemegang saham. Selain itu, kepemimpinan US Steel dan sebagian besar pemegang saham umumnya mendukung akuisisi ini. Namun, muncul oposisi terutama dari dana investasi dan pemangku kepentingan politik, yang semakin memperumit transaksi ini.
Mantan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini berkomentar bahwa keterlibatan Nippon Steel harus dianggap sebagai "investasi" dan bukan "pengambilalihan," serta menambahkan bahwa perusahaan Jepang tersebut tidak boleh memegang mayoritas saham. Pernyataan ini semakin menambah ketidakpastian dalam proses akuisisi.
US Steel, yang dulunya merupakan raksasa industri, mengalami kesulitan dalam beberapa tahun terakhir dan menempati peringkat ke-24 dalam produksi baja global pada 2023. Nippon Steel, yang bertujuan untuk menggandakan produksi baja tahunannya menjadi 100 juta ton—setara dengan total produksi India—melihat US Steel sebagai batu loncatan penting dalam strategi ekspansi globalnya.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, investasi Nippon Steel di US Steel sejalan dengan tujuannya untuk mengamankan pasokan bahan baku yang stabil dan meningkatkan teknologi tungku listrik canggihnya. Faktor-faktor ini menjadikan akuisisi ini sebagai langkah strategis jangka panjang daripada sekadar permainan finansial jangka pendek.
Namun, kesepakatan ini telah menjadi isu politik di AS, dengan kekhawatiran tentang kepemilikan asing atas produsen baja bersejarah. Beberapa dana investasi Amerika, yang menginginkan keuntungan lebih tinggi, juga menentang akuisisi ini, dengan menyarankan bahwa mereka bisa mendapatkan manfaat lebih besar dari pembeli alternatif seperti Cleveland-Cliffs, yang sebelumnya mencoba mengakuisisi US Steel.
Seiring dengan terus berlanjutnya perlawanan politik dan investor, Nippon Steel menghadapi jalan sulit dalam menyelesaikan kesepakatan ini. Pertanyaannya tetap, apakah perusahaan ini dapat mengatasi tantangan tersebut dan mengamankan posisi yang lebih kuat di pasar AS?
Source: Kyodo






